Sulap rumput jerami jadi karya seni, intip serunya pelajar belajar wayang suket khas Yogyakarta.
Di sudut Desa Wisata Grogol, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, suasana riuh rendah para pelajar yang sedang belajar menjadi dalang dan pengrajin tampak begitu antusias. Tangan-tangan kecil mereka dengan teliti memilin helai demi helai jerami kering, mencoba membentuk karakter wayang yang ikonik. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (20/10/2026) ini bukan sekadar bermain, melainkan sebuah upaya pelestarian seni tradisi "wayang suket" yang kini mulai jarang ditemukan di tengah gempuran modernitas.
Wayang suket, yang secara harfiah berarti wayang rumput, adalah bentuk seni kriya tradisional Jawa yang memanfaatkan bahan alami dari lingkungan sekitar. Berbeda dengan wayang kulit yang membutuhkan kerbau atau sapi sebagai bahan baku utama serta proses pembuatan yang panjang dan rumit, wayang suket menawarkan kesederhanaan. Namun, kesederhanaan ini menuntut ketelatenan tinggi. Sejak diperkenalkan sebagai bagian dari paket edukasi wisata budaya di Desa Wisata Grogol pada tahun 2012, kerajinan ini telah menjadi primadona bagi wisatawan, terutama rombongan sekolah yang ingin mencari pengalaman berbeda di Yogyakarta.
Dalam sesi edukasi tersebut, para pelajar diajak untuk memahami filosofi di balik wayang suket. Wayang suket bukan hanya sekadar mainan yang dibuat dari sisa panen padi, melainkan simbol kedekatan masyarakat agraris Jawa dengan alam. Bahan utama yang digunakan adalah jerami atau rumput teki yang dikeringkan dengan teknik khusus agar tetap lentur namun kuat saat dipilin. Proses pembuatannya diawali dengan pemilihan bahan, pembersihan, hingga teknik mengikat dan melipat yang membentuk anatomi tokoh wayang seperti Arjuna, Bima, atau punakawan.

Bagi anak-anak sekolah, kegiatan ini memberikan tantangan tersendiri yang melatih motorik halus dan kesabaran. Pemandu di Desa Wisata Grogol dengan sabar membimbing mereka, mengajarkan bahwa untuk menghasilkan sebuah karya seni yang bernilai, seseorang harus mampu mengendalikan emosi dan fokus pada setiap detail kecil. "Tidak boleh terburu-buru, kalau jeraminya ditarik terlalu kencang, ia akan putus," ujar salah satu pemandu kepada para pelajar. Kalimat sederhana ini menjadi pelajaran hidup bagi peserta, bahwa setiap proses membutuhkan ketelitian dan kelembutan.
Eksistensi wayang suket di Desa Wisata Grogol sejak 2012 menunjukkan keberhasilan desa tersebut dalam mengemas kearifan lokal menjadi destinasi wisata yang berkelanjutan. Pengelola desa wisata memahami bahwa untuk mempertahankan tradisi, mereka harus merangkul generasi muda. Dengan menjadikan wayang suket sebagai media pembelajaran, nilai-nilai budaya Jawa yang luhur dapat tersampaikan tanpa terasa membosankan. Anak-anak yang tadinya hanya mengenal tokoh wayang dari layar gawai, kini bisa memegang langsung bentuk fisik wayang dari jerami yang mereka buat sendiri.
Secara historis, wayang suket diyakini sebagai bentuk ekspresi kreatif para leluhur yang ingin menghadirkan hiburan murah meriah bagi anak-anak di pedesaan saat masa panen tiba. Jerami yang melimpah di sawah diubah menjadi media cerita. Nilai edukatif yang terkandung di dalamnya sangatlah dalam; anak-anak diajarkan untuk menghargai bahan-bahan yang dianggap remeh oleh orang lain. Dengan tangan yang terampil, rumput yang tidak berharga bisa berubah menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika tinggi sekaligus fungsi pedagogis.
Dalam perspektif pendidikan, kegiatan membuat wayang suket ini mengintegrasikan beberapa aspek kecerdasan, mulai dari kecerdasan kinestetik hingga kreativitas visual. Ketika seorang pelajar berhasil membentuk karakter wayang, ada rasa percaya diri yang muncul. Mereka tidak hanya belajar membuat wayang, tetapi juga belajar mendongeng melalui wayang yang mereka ciptakan. Sesi penutup kegiatan biasanya diisi dengan pertunjukan singkat, di mana para pelajar memamerkan hasil karya mereka di depan teman-temannya, menciptakan ruang interaksi sosial yang hangat dan suportif.

Bagi masyarakat Yogyakarta, Desa Wisata Grogol kini menjadi salah satu episentrum penting dalam pelestarian seni kriya rakyat. Inisiatif sejak tahun 2012 ini telah memberikan dampak ekonomi sekaligus sosial. Masyarakat lokal yang menjadi pemandu wisata mendapatkan penghasilan tambahan, sementara para pengunjung mendapatkan pengalaman yang berkesan. Keberlanjutan program ini menjadi kunci utama. Pihak pengelola terus melakukan inovasi, baik dari segi metode pengajaran maupun variasi tokoh wayang yang diajarkan, agar selalu relevan dengan perkembangan zaman.
Lebih jauh lagi, wayang suket adalah bentuk nyata dari kemandirian budaya. Di tengah maraknya mainan plastik impor yang tidak ramah lingkungan, wayang suket hadir sebagai alternatif mainan edukatif yang ramah lingkungan (eco-friendly). Penggunaan jerami yang mudah terurai secara alami menjadikan kerajinan ini sangat mendukung prinsip keberlanjutan. Ini adalah bentuk pendidikan karakter yang secara tidak langsung mengajarkan anak-anak untuk mencintai lingkungan dan menggunakan sumber daya alam secara bijak.
Keberhasilan Desa Wisata Grogol dalam mempertahankan tradisi ini patut diapresiasi oleh banyak pihak. Di tengah arus globalisasi, seringkali elemen budaya lokal terpinggirkan. Namun, dengan pendekatan yang tepat, yaitu melalui edukasi wisata, budaya yang tampak "kuno" justru bisa menjadi daya tarik wisata yang unik. Banyak wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, yang merasa kagum melihat bagaimana jerami kering bisa diubah menjadi sosok ksatria atau raksasa hanya dengan teknik pilin yang sederhana.
Menutup kegiatan hari itu, para pelajar tampak bangga membawa pulang wayang suket buatan mereka masing-masing. Wajah mereka yang tadinya penuh konsentrasi saat memilin jerami, kini berubah menjadi senyum lebar penuh kepuasan. Mereka telah berhasil mengubah rumput jerami menjadi sebuah karya seni, sebuah simbol kreativitas yang menghubungkan mereka dengan akar budaya nenek moyang. Desa Wisata Grogol telah membuktikan bahwa dengan dedikasi, hal-hal kecil bisa memberikan dampak besar bagi pelestarian identitas bangsa.

Edukasi budaya seperti ini diharapkan dapat terus berlanjut dan direplikasi di berbagai daerah lainnya. Mengingat pentingnya peran generasi muda dalam estafet kebudayaan, keterlibatan mereka secara aktif dalam praktik langsung—bukan sekadar melihat atau membaca—adalah metode terbaik. Wayang suket bukan hanya tentang jerami, melainkan tentang bagaimana kita menghargai warisan, melatih kesabaran, dan merawat imajinasi melalui kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Yogyakarta.
Perjalanan panjang wayang suket dari masa ke masa kini menemukan rumah baru di hati para pelajar di Desa Wisata Grogol. Melalui jemari mereka, wayang-wayang jerami ini akan terus hidup, bercerita, dan mengajarkan tentang keindahan yang lahir dari kesederhanaan. Yogyakarta tidak hanya menawarkan keindahan candi atau kelezatan gudeg, tetapi juga menyimpan rahasia kreativitas di balik bilah-bilah jerami yang dipilin dengan penuh cinta. Inilah potret nyata betapa kayanya khazanah budaya Indonesia jika terus digali, dipelajari, dan dibagikan kepada generasi penerus dengan cara yang menyenangkan.
